>

Ditulis berdasarkan khotbah Bapak Marco pada pertemuan Kingdom Business di GSJP pada tanggal: 25 Juli 2010 dari Lukas 16 : 1 – 9

Tuhan Yesus menceritakan tentang suatu kasus bisnis, yaitu tentang seorang bendahara yang melakukan korupsi dan tindakan korupsinya itu terbongkar dan diketahui majikan-nya. Ia diberi waktu yang sangat terbatas untuk segera mempertanggungjawabkan perbuatannya sebelum ia dipecat dari jabatannya.

Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.” (ayat 1 – 3)

Si bendahara itu hanya mempunyai waktu yang sangat terbatas untuk segera mengambil tindakan untuk dirinya sendiri yang akan menguntungkannya untuk masa depannya setelah ia tidak lagi bekerja di perusahaan itu. Dan si bendahara itu mengambil tindakan yang cerdik yaitu dengan memanfaatkan kekuasaan atas keuangan perusahaan yang masih ia pegang dalam waktunya yang sangat terbatas itu. Ia melakukan tindakan yang cerdik meskipun tidak terpuji dan tidak dapat dibenarkan yaitu dengan mengubah surat hutang langganan perusahaan dan memberikan rabat atau potongan tanpa izin dan sepengetahuan majikannya.

Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.” (ayat 4 – 7)

Meskipun perbuatan si bendahara itu tidak dapat dibenarkan namun demikian majikannya dalam hati memuji kecerdikan dari bendaharanya karena ia telah melakukan perbuatan cerdik untuk menyelamatkan masa depannya dengan menggunakan kekuasaan yang masih ada di tangannya yaitu dengan cara menanam jasa pada para langganannya untuk mengikat hubungan dengan mereka, supaya setelah ia dipecat dari pekerjaannya para langganannya itu mau menolong dia, menampung dia atau mempekerjakan dia.

“Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik.” (ayat 8)

Tuhan Yesus juga memuji kecerdikannya – bukan ketidak jujuran dan tindakannya yang tidak bertanggung jawab itu. Tuhan bahkan “mengritik” orang-orang percaya sebab mereka seringkali tidak bertindak dengan cerdik.

Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.” (ayat 8)

Padahal Tuhan menghendaki supaya anak-anak Tuhan juga bertindak cerdik (bukan licik), di tengah-tengah orang-orang dunia yang kata Tuhan seperti “serigala”

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10 : 16)

Kemudian Tuhan Yesus memberikan nasihat-Nya sehubungan dengan kecerdikan yang perlu dimiliki oleh orang-orang percaya, yaitu bahwa sementara kita hidup dalam waktu yang sangat terbatas di dunia ini kita harus mengambil tindakan yang akan berguna bagi masa depan kita, yaitu kekekalan, dengan memanfaatkan sesuatu yang ada dalam kekuasaan tangan kita, yaitu uang (mamon).

“Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” (ayat 9)

Apa yang harus dilakukan dengan uang kita? Tuhan menasehatkan kita supaya sementara hidup dalam waktu yang singkat dan terbatas ini kita menggunakan “mamon” yaitu uang atau kekayaan materi yang ada dalam kekuasaan tangan kita untuk mengikat “persahabatan” dengan Tuhan, supaya “jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi” artinya jika uang sudah tidak berguna lagi, dengan kata lain waktu kita di dunia ini sudah berakhir, maka kita “diterima di dalam kemah abadi” yaitu di dalam sorga.

Mengapa Tuhan Yesus berbicara tentang “mamon” (uang atau harta materi) kepada kita? Sebab Tuhan tahu bahwa hati manusia pada umumnya terikat kepada hartanya.

“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6 : 21).

Ini adalah penilaian Tuhan dan ini seratus persen benar.

Dalam nasehat Tuhan untuk “mempergunakan mamon” tersirat pengajaran agar mamon atau uang kita itu dijadikan “alat” atau “hamba” dan bukan sebaliknya menjadi “majikan” dan memperhamba kita. Jika uang dijadikan majikan, maka ia adalah majikan yang kejam yang akan memperhamba kita dan menjadikan kita seperti mesin yang harus bekerja padanya mati-matian siang dan malam; kita mati-matian “mengejar-ngejar” uang. Tetapi sebaliknya jika kita menjadikan uang itu alat atau hamba, maka ia adalah hamba yang baik dan berguna untuk banyak hal. Ia akan bekerja bagi kita tanpa rasa lelah dan uang akan “mengejar-ngejar” kita. Bukankah itu yang kita inginkan? Dan memang begitulah seharusnya. Untuk itu kita harus “mempergunakan” mamon atau menjadikannya hamba atau alat kita. Ini adalah sikap yang benar yang harus kita miliki terhadap uang atau harta kita.

Lalu bagaimanakah kita harus menggunakan uang kita untuk “mengikat persahabatan” dengan Tuhan?

Perhatikan, ini bukanlah upaya untuk “menyuap” atau “membeli” Tuhan sebab itu tidak mungkin. Tetapi ini adalah memuliakan Tuhan, menyenangkan hati Tuhan, dengan menggunakan harta yang ada dalam kekuasaan kita.

“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu” Amsal 3 : 9

Mengikat persahabatan dengan sesama manusia dengan mempergunakan uang bukanlah suatu hal yang asing terutama dalam dunia bisnis. Sudah biasa dalam dunia bisnis kita menjamu pelanggan atau calon pelanggan untuk membangun dan mengikat hubungan bisnis dengan mereka. Kita menjamu langganan makan siang atau makan malam, atau memberi hadiah.

Amsal 18 : 16 “Hadiah memberi keluasan kepada orang, membawa dia menghadap orang-orang besar”.

Namun dalam memberikan hadiah ini harus diperhatikan agar jangan sampai melanggar hukum atau aturan yang berlaku. Tetapi pada dasarnya mengikat persahabatan dengan menggunakan uang yang ada dalam kekuasaan kita adalah sesuatu yang umum.

Demikian pula kita dapat mempergunakan uang kita untuk mengikat hubungan dengan Tuhan. Jika kita melakukannya dengan hati yang tulus Tuhan akan berkenan dengan apa yang kita lakukan dengan uang kita.

Kita menggunakan uang kita untuk “mengikat persahabatan” dengan Tuhan, yaitu dengan menginvestasikan uang kita dalam proyek Kerajaan Sorga, baik dengan menyokong keuangan pekerjaan Tuhan, pembangunan rumah Tuhan, kegiatan peginjilan, bantuan kemanusiaan, bantuan untuk saudara seiman (diakonia) maupun untuk para hamba Tuhan. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dengan uang kita untuk melakukan kehendak dan rencana Allah dan untuk memperkenankan hatinya.

“Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6 : 20

Jika kita memiliki sikap yang benar terhadap uang kita dengan menjadikannya alat atau hamba kita dan tidak menjadikannya majikan, dan jika kita mempergunakan uang kita untuk mengikat hubungan dengan Tuhan dengan cara menginvestasikannya dalam Kerajaan Sorga, maka ketika uang itu sudah tidak dapat menolong kita, atau artinya waktu kita di dunia sudah berakhir, maka harta yang selama ini kita investasikan di sorga akan menolong kita sehingga kita di terima di Kemah Abadi di sorga.

Menjadikan mamon sebagai alat dan menguasainya seperti hamba, maka kita sedang berada di tempat yang tepat dan siap untuk diberkati dengan berlimpah susu dan madu, seperti di Kanaan.

(http://kbnindonesia.com)